Sabtu, 14 November 2015

Kerajinan Dari Koran Bekas Buat Orang Ini Hasilkan Ratusan Juta




 Kerajinan Dari Koran Bekas Buat Orang Ini Hasilkan Ratusan Juta 

Industri rumah tangga, khusunya kerjaninan tangan saat ini semakin keratif dan mulai percaya diri untuk tampil kembali ke hadapan publik, pasalnya salah satu industri kerajinan tangan dari koran bekas ini mampu menghasilkan berbagai macam kerajinan tangan yang unik serta bernilai ekonomis. Untuk mendapatkan koran bekas tidak lah sulit karena sekarang ini distributor koran bekas sangatlah banyak. Selain itu harga koran bekas pun relatif lebih mudah, yaitu hanya dengan membayar Rp 2.000 per kilo Anda sudah mendapatkan nya. Seorang perajin sebut saja dia Risdani Yasir, seorang guru Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Asahan, Sumatera Utara yang tadinya koran bekas ini tidak begitu bernilai, namu dengan kreativitasnya ia mampu menylap koran bekas tadi menjadi 15 kali lipat.

Sekarang ini tidak hanya pendidikan atau titel saja yang kita gunakan, namun yang terpenting adalah skill atau kreativitas. Menurut laporan laman republika, bahwa sekarang ini produk buatan tangan Risdani itu telah menembus pasar Australia dan sekaligus memberdayakan penduduk asahan dan beberapa kota di Indonesia. Keputusan Risdani mengolah koran bekas ini melalui proses panjang sejak 2009.

Pada awalnya sebelum memanfaatkan koran bekas menjadi media utama dalam kerajinan yang ia keola, ia juga ingin mendapatkan bahan baku yang menurutnya mudah dibuat menjadi kerajian tangan dan salah satunya adalah eceng gondok, namun sebagaimana kita ketahui bahwa sekarang ini tumbuhan liar tersebut mulai susah ditemukan.


"Eceng gondok, bahan bakunya bagus, mudah dibentuk karena seratnya mudah dilusuhkan. Tapi, persoalannya, tidak banyak di Asahan. Masak saya harus mengimpor dari luar Asahan," Tutur  ayah empat anak ini.

Selain itu ia juga perah mencoba menciptakan kerajinan tangan dari pelepah pisang, karena menurutnya pelepah pisang ini sangat mudah didapatkan. Selain itu pohon pisang ini juga cepat bertunas dan berkembang biak, khusuya pada musim penghujan. 

"Sejak awal tujuan saya memberdayakan masyarakat sekitar, saya pikir jika lama begini, mereka pasti tidak tahan," ujar pria kelahiran Desa Kisaran, Asahan, 1 Oktober 1973 ini.

Ternyata ditengah perjalanan ia mendapatkan kesulita,lantaran menemukan jalan buntu menggunakan bahan baku dari tumbuhan, akhirnya Risdani mencoba barang-barang bekas, seperti botol bekas, paralon, styrofoam, dan lainnya.

"Saya ingat betul, istri sempat marah-marah karena bawa-bawa sampah ke rumah," kata Risdani.

Selanjutnya ia pun mulai berfikir-kira-kira apa bahan baku yang mudah didapat dan tidak membuat banyak sampah? Akhirnya dalam proses mencari bahan baku itu, ia melihat tumpukan koran bekas dan pada akhirnya ia pun berfikir kenapa tidak memanfaatkan bahan baku dari koran saya ya?

Dengan ide tersebut ia pun mencoba membuat kerajinan tangan dari koran bekas tersebut, ternyata tekstur koran ini mudah dilusuhkan dan dibentuk, sehingga dapat memenuhi keinginannya untuk membuat pernak-pernik perabotan rumah tangga. Beragam produk dibuat mulai diciptakan, seperti guci, sendok, panci, cangkir, teko, dan lainnya.

Tak puas sebatas memanfaatkannya sendiri, ia pun mengajak serta mengajarkannya kepada anak didiknya di MAN Asahan pada tahun yang sama.

Dari hasil ajakan dan pengajarannya di sekolahan MAN Asahan tersebut, tidak disangka, beragam produk unik dan cantik buah karya anak asuhnya mulai dicari oleh pasar. Hasilnya, pemanfaatan koran bekas ini juga yang menjadikan MAN Asahan meraih penghargaan tingkat nasional Adiwiyata 2015 atas kepedulian terhadap lingkungan.

Penghargaan dan keberhasilannya menembus market ternyata, memotivasi dan membuat Risdani percaya diri untuk menularkan kebisaannya itu kepada warga kampungnya, Desa Tanjung Asri Kabupaten Asahan. Awalnya, ia sempat ragu karena khawatir tidak mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat.

"Saya ajarkan sebentar, mereka langsung bisa. Saya katakan, berapa pun yang dibuat, akan saya beli, karena pasarnya ada. Besoknya saya datang lagi, dan ternyata sudah ada yang buat tali berbahan koran dengan diameter 1 cm, sepanjang 70 meter," kata dia.

Risdani meminta warga membuat tali berbahan koran yang dihargai Rp 500 rupiah per meter, sedangkan untuk membuat tali sepanjang 70 meter hanya membutuhkan 1 kg koran bekas.

"Ketika saya datang itu, sudah ada yang langsung menerima uang Rp 35 ribu dari saya. Malahan, setelah berjalan satu pekan ada warga yang bisa membuat 2.000 meter atau mendapatkan penghasilan sekitar Rp 1 juta," katanya.

Lantaran mampu memberikan keuntungan bagi warga setempat, ajakan Risdani ini pun medapatkan tanggapan positif dan mulai menyebar luas di Kabupaten Asahan.

Melihat bahwa kerajinan tangan begitu produktif, ternayta kegiatan ini banyak ditiru dan diikuti oleh seluruh provensi di Indonesia, sehingga akhirnya terbentuklah kelompok usaha di Padang, Makassar, Palembang, dan Wakatobi dengan serapan mencapai 100 orang sebagai penyuplai bahan baku.

Model usaha yang ditawarkan Risdani ini cukup diminati, karena relatif mudah dan dapat dikerjakan sendiri tanpa menggunakan alat khusus. Warga hanya diminta membuat tali berdiameter 1 cm berbahan koran.

Keberhasilan tersebut lantas tidak membuat Risdani berbesar hati, ia pun selalu berinovasi dan mengajak orang-orang disikitarnya untuk maju dan menghasilkan uang dari kerajinan tanag tersebut. Hingga kini Risdani telah memiliki 30 item pernak-pernik dengan harga Rp 4.000 hingga Rp 200 ribu yang dipajang di gerai miliknya, Dapur Kreasi Daur Ulang Risarepanga, dengan memperkerjakan sembilan orang.

Untuk menyerap produk buatan rekannya yang tersebar di seluruh Indoneia itu, Risdani sama sekali tidak khawatir karena telah bekerja sama dengan reseller di seluruh kota.

Sejauh ini, permintaan relatif terjaga, termasuk dari Green Teacher Australia, yakni komunitas guru yang peduli pada lingkungan dan mulai memesan sejak 2012.

Setelah memulainya pada 2009, ia sudah meraup omzet sekitar Rp 300 juta untuk pasar nasional dan Rp 100 juta untuk pasar luar negeri. Sementara, dari total omzet itu, keuntungan bersih yang diperolehnya sekitar 25 persen.

Artikel Terkait